Tags

, , , , ,

Lombok, The Rising Star

Dalam sebuah kesempatan melakukan touring ke salah satu lokasi yang berpotensi besar menjadi Pusat pariwisata di Indonesia. Pulau Lombok adalah jawabannya, pulau yang di sebelah timur Pulau Bali, mempunyai kekayaan alam dan keindahan alam yang bisa di jadikan pilihan untuk mengeksplorasi kekuasaan Tuhan.. Perjalanan ini saya lakukan pada quarter empat tahun 2008 lalu.

Di tengah-tengah kerjaan yang melakukan aktivitas kunjungan kerja dan aktivitas di beberapa site lapangan. Bisa menyempatkan untuk rekreasi ke Lombok. Sungguh senang dan bersyukur.

Penerbangan ke Lombok bisa dilakukan dari pulau Denpasar, tetapi bisa juga dicapai dengan perjalanan laut dari Bali. Penerbangan ke Lombok akan langsung mendarat di Bandara kota Mataram. Kota Mataram sebagai pusat kota di Lombok cukup bisa dijangkau dengan waktu yang relatif singkat. Jarak antar lokasi wisata pun juga lumayan dekat.

Setelah mempertimbangkan lokasi-lokasi yang layak di sambangi, akhirnya cuma bisa datang ke pantai senggigi, gili trawangan, dan wisata kerajinan kain dan kayu.

Pantai Senggigi

Pantai Senggigi digadang-gadang bakal bisa menjadi primadona wisata di Lombok. Dan memang terbukti sudah banyak hotel yang  dibangun di sekitarnya. Dari segi pantainya sendiri lumayan bagus. Pasir putih dan bisa digunakan untuk bermain. Biasanya warga sekitar memanfaatkan untuk berenang. Sebagian lagi anak remaja bermain selancar, karena didukung oleh ombak yang bersahabat di beberapa titik pantai.

Pantai Senggigi

Pemecah Ombak

Saya sendiri hanya bermain pasir dan melihat pemandangan cakrawala dari bibir pantai. Karena tanpa persiapan, maka kunjungan di Senggigi ini cukup dengan bermain air kecil saja. Kerang maupun bebatuan pun tampak menghiasi sepanjang pantai. Sebenarnya kesempatan emas di pantai Senggigi adalah dengan menunggu hingga sunset pada sore hari. Tetapi dikarenakan angkot yang menghubungkan antara Senggigi dan Mataram kota sudah habis saat malam hari, maka ditunda dulu deh keinginannya.

Pemecah Ombak ( lagi )

Tetapi hal yang kurang menarik di Senggigi adalah pantainya kotor oleh plastik atau sampah para pengunjung yang dibuang seenaknya. Tidak adanya tempat sampah membuktikan manajemen kebersihan di Senggigi kurang mendukung. kayaknya hal ini perlu ditingkatkan.

Mancing Senggigi

Keberadaan saya di Lombok sangat didukung oleh jaringan telekomunikasi yang ada. Hampir semuanya kulihat banyak menara BTS merah putih. Saya sendiri pun memanfaatkan jaringan telekomunikasi Telkomsel untuk browsing informasi mengenai Pulau Lombok, selain juga melakukan tanya-tanya ke kanan kiri atau orang lain. Dengan GPRS cukup untuk mengumpulkan informasi dan mengambil keputusan mau kemana perjalanan selanjutnya. Sungguh menarik.

Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno

Salah satu tujuan yang menarik adalah 3 gili ( atau pulau kecil ) yaitu Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Untuk mencapainya bisa dilakukan dengan 3 cara: yaitu kapal boat dari Senggigi, Jalan darat sepanjang pantai dari Senggigi dan jalan darat sepanjang pinggiran gunung.

Jalan yang kutempuh waktu itu adalah perjalanan darat melewati hutan di pinggiran pegunungan dengan angkot lokal. Di dalam angkot, penuh sesak aku bersama para penduduk desa yang menjual hasil laut dan pertaniannya di pasar Gunungsari Mataram. Karena melewati hutan, banyak sekali kulihat monyet-monyet di kanan kiri jalan. Bener-bener alami. Yang agak menakutkan adalah sebelah kiri jalan adalah tebing terjal.

Perjalanannya lumayan lama, tapi akhirnya sampai juga di pantai keberangkatan ke Gili Trawangan. Untuk mencapai Gili tersebut dengan menggunakan kapal yang memang ngantri. Ada batas minimum untuk naik kapal tersebut yaitu 15 orang dengan biaya sekitar 10 ribu per orang. Saking lamanya menunggu, ternyata sore sudah menjelang.

Setelah hitung-hitung waktu, tidak akan cukup untuk ke Gili Trawangan. Sudah tidak ada lagi kapal yang balik dari Gili saat malam, dan adanya tinggal esok hari. Karena esok hari harus sudah take off, maka memutuskan untuk balik lagi ke Mataram. Hiks hiks😦

Saya hanya mampu datang, melihat dan bersedih karena tidak bisa sampai di Gili itu. Artinya prinsip Alexander Agung tidak tercapai. Tetapi dalam hati kumengatakan, ” boleh sekarang hanya mampu melihatnya, tapi nanti Aku akan datang, melihat dan menang penaklukan “. Kapan ya ..😀

Kearifan Lokal warga Lombok dalam Disiplin Sholat

Saat sholat ashar aku sholat di sekitar pantai keberangkatan gili trawangan. Selesai sholat, kulihat adik-adik kecil belajar ngaji Al Quran. Waktu itu kudengar mereka melafalkan surah Al Kafirun. Memang belajar ngaji untuk anak-anak di pedesaan sudah mendarah daging di setiap tempat. Pasti ada.

Aku menunggu angkot cukup lama. Dan waktu itu aku bertemu dengan pelayan/bartender di salah satu penginapan di Gili Trawangan. Dia banyak bercerita tentang pulau Lombok, Gili trawangan dan tempat wisata di Lombok. Akhirnya dapat juga angkot bersama laki-laki itu dan sekarang aku sudah lupa namanya😀. Di dalam angkot, pembicaraan semakin menarik. Dan bahkan aku bertemu penumpang lain yang notabene berasal dari daerah yang sama denganku, Solo Berseri. Memang dunia ini kecil. Di lombok saja aku masih bertemu dengan orang Solo. Benar-benar menarik.

Adzan maghrib berkumandang nyaring. Tiba-tiba Pak Sopir menghentikan mobilnya tepat di depan masjid. Aku kaget. ” Kenapa berhenti ?”, tanyaku kepada teman baruku tadi.  Dia jawab ” Memang seperti inilah kedisiplinan masyarakat Lombok dalam beribadah. Setiap kendaraan akan berhenti di depan mesjid saat waktu Sholat tiba. Seluruh penumpang di ajak sholat bersama-sama”. ” Subhanalloh “. Benar-benar Luar Biasa pengalamanku di Lombok ini. Kendaraan umum  akan berhenti saat adzan berkumandang. Tidak pernah kutemui hal seperti ini sebelumnya. Sungguh tak kusangka hal ini. Bravo Lombok.

Saya lupa nama masjidnya, karena penerangan memang redup-redup. Air Wudhu yang kuambil cukup dingin. Akhirnya aku ikut sholat berjamaah bersama warga yang disiplin dalam sholat. Dan memang di lombok, masjid atau mushola selalu ada di setiap desa. Maka Lombok dikenal dengan sebutan ” Pulau Seribu Masjid “. Ini terbukti dengan statistik masjid yaitu 5400-an masjid dibangun penduduk 2,6 juta yang 90% penduduknya sendiri beragama Islam.

Selesai sholat, kendaraan bersama penumpangnya melanjutkan perjalanan hingga tujuan akhir. Semua penumpang turun, begipula saya. Sasaran berikutnya adalah makan makanan khas Lombok.

Ayam pelecing, Dodol Lombok, Susu Kuda Liar Sumbawa

Makanan khas lombok adalah ayam pelecing. Yang paling khas adalah sambelnya yang super puedesss. Makanan ini dijual di sepanjang jalan dari bandara Mataram setiap malam. Sedangkan dodol Lombok dijual di pusat oleh-oleh Lombok. Susu kuda Liar sumbawa pun dijual. Tak Lupa madu dari lebah hutan lombok dan madu kapuk berwarna putih.

Mutiara dan Emas Lombok

Waktu itu rekanku bilang, ” aku pingin dibelikan mutiara asli dari peternakan kerang mutiara di Lombok”. Setelah kucari-cari, peternakan kerang mutiara lombok tidak ketemu. Yang ada hanya mutiara yang palsu, karena terbentuk tidak sempurna. Wujudnya pun jelek. Mutiara dan emas asli banyak dijual di pusat jual beli emas. Maaf, temenku gak jadi dapat mutiara asli Lombok. Nevermind lah. Kata temen baru yang bertemu di Lombok, pernah ada orang yang menemukan mutiara asli yang tersimpan di kerang yang mati cukup lama. Saking lamanya terbentuk, ukuran mutiara itu sebesar telur ayam. Harganya ??? Milyaran pastinya. Sungguh seneng jika menjadi orang beruntung itu.😀😀

Lelah puter-puter Lombok tanpa rencana. Istirahat di penginapan Mataram. Murah : 100 ribuan per hari. Yo wis lah sementara cukup sekian. Menunggu Archipelago selanjutnya😀

salam,