Tags

, ,

Maafkan Aku, Sepatumu Jadi Hilang


Besok pada tanggal 16 Maret 2010 merupakan tanggal merah, yaitu libur perayaan hari Raya Nyepi. Hari itu adalah hari selasa. Libur di hari selasa, merupakan moment bagus untuk mengambil cuti bagi setiap karyawan. Cuti di hari senin, sehingga total libur menjadi 4 hari. Sungguh menyenangkan.

Harpitnas : Hari Kejepit Nasional

Bagi para perantau seperti aku, momen seperti itu harus dikalkulasi dengan benar. Setiap para perantau pasti juga banyak yang akan mengambil cuti dan mudik pulang ke kampung halaman. Pada hari jumat setelah minggu kerja selesai setiap orang pasti akan melakukan perjalanan pulang. Ada yang naik bis, kereta, pesawat, travel maupun kendaraan pribadi. Biasanya setiap orang sudah melakukan booking paling tidak 2 minggu sebelum waktu keberangkatan. Jika waktu kurang dari itu belum melakukan booking, biasanya sudah akan kehabisan tiket. Makanya harus jauh-jauh hari melakukan booking tiket.

Aku pun tak tinggal diam. Aku harus cepat-cepat booking. Aku sendiri biasanya naik kereta atau pesawat untuk pulang kampung. Untuk kali ini, aku ingin naik kereta. Saat ku kontak call center kereta api, pramuwicaranya menyampaikan tiket Gambir – SoloBalapan menggunakan kereta ArgoLawu sudah habis. Kebetulan kampung halamanku di daerah Surakarta atau orang sering menyebutnya kota Solo. Waktu itu pramuwicaranya menyampaikan tiket yang masih ada tinggal Gambir – Malang ( kereta Gajayana ) dan Gambir – Surabaya ( kereta Bima ). Karena pernah punya pengalaman buruk dengan kereta tujuan kota yang lumayan jauh itu, maka aku tidak jadi mengambil tiket yang tersedia.

Antri Kereta

Untunglah aku punya informasi lain tempat memperoleh tiket. Seorang teman kantorku bisa membantu mencarikan tiket pulangku. Dan Alhamdulillah kabar baik datang juga. Temen kantorku akhirnya memperoleh tiket untuk kepulanganku. Terima kasih Ibu, yang bernama Ibu Dewi.

Tiket Pulangku

Pada saat serah terima tiket itu, akan dilakukan di kantor saat aku dan teman sekantorku itu masuk kerja. Setelah ditunggu-tunggu ternyata temen sekantorku tidak masuk kantor. Kebetulan dia sedang hamil dan kebetulan lagi butuh istirahat selama seminggu setelah periksa ke dokter. Jadi gimana dong aku bisa mengambil dan membayar tiket itu ??

Setelah melakukan pembicaraan via telepon dengan temanku, akahirnya disepakati bahwa nanti suaminya yang akan mengantarkan dan menyerahkan tiket itu kepadaku. Kebetulan kantorku di jalan Gatot Subroto Kav 42, Jakarta Selatan. Jadi suami temenku akan menyerahkan tiket pulangku langsung ke kantorku di jalan Gatot Subroto. Sesuai kesepakatan dia akan menyerahkan pada hari kamis sore H-1 pada jam setengah tujuh.

Suami temenku yang bekerja di daerah Cakung, Jakarta Timur harus jauh berkendara menuju Jalan Gatot Subroto yang katanya memang searah dengan rumahnya. Sore itu kebetulan hujan lumayan deras dan menurut informasi coverage area hujannya lumayan luas. Memasuki waktu Adzan Maghrib, aku pun beserta rekan kantor yang lain turun dari tempat kerjaku di lantai 8 ke bawah untuk sholat Magrib di masjid samping kantor. Selesai sholat maghrib, seiring hujan yang masih turun, aku pun berjalan ke tempat kesepakatan untuk mengambil tiket itu. Tempatnya sendiri ada di belakang gedung kantorku. Baru hujan-hujanan menuju tempat itu, eh suaminya temenku menelpon “ San, lagi hujan nih, aku lagi nunggu di masjid belakang kantor”, dia bilang lewat telepon.

“Oh gitu ya, aku tadi juga barusan dari masjid. Ini aku baru jalan ke belakang kantor”, aku informasikan itu.

“ooo ternyata juga habis dari masjid juga ya.. Ini masih hujan nih, gimana tiketnya ya ?” dia menanyakan bagaimana menyerahkan tiket.

“ Gini aja, aku balik lagi ke masjid ya J. Ngomong-omong sampeyan pakai baju apa ya ? “, aku timpali pertanyaanya.

“ Aku pakai baju merah kotak-kotak nih.” Dia kasih tahu warna bajunya.

“Oke, ketemu di masjid ya”, makin semangat untuk mendapatkan tiket pulangku.

Sampai di masjid lagi, kutelpon lagi dia. “Aku sudah sampai di masjid lagi nih, sebelah depan bagian timur”. Belum sempat 10 detik, dia sudah nongol. “Oh ini to suaminya temenku.” Batinku.

Setelah bertemu dan saling sapa dan saling mengenalkan diri, aku menanyakan kabarnya. Memang hujannya cukup merata, dan memang dirumahnya pun masih hujan. Dia mengeluarkan tiket pesenanku, lalu aku cek isinya. Dan memang isinya sesuai pesenanku, tiket kereta api ArgoLawu dari Gambir tujuan Solo Balapan. Tanggal yang tertera 12 Maret 2010, Jam 20.00. Sedangkan nomor gerbong 4 dan nomor tempat duduk adalah 9C. Alhamdulillah.

Aku pun mengeluarkan uangku untuk membayar jasa tiket itu dan kuserahkan ke dia. Akad kesepakatan ini sesuai dan sah. Alhamdulillah.

Sepatu Hilang

Setelah ngobrol, ternyata ada informasi yang cukup menyesakkan. Suami temenku kehilangan sepatu kerjanya. Aku pun kaget.

“ loh, kok bisa hilang ? “ tanyaku.

“ Gak tahu, aku tadi buru-buru dan sudah masuk rakaat terakhir. Jadi aku langsung saja melepas sepatu dan wudhu untuk sholat.” Dia cerita dengan suara lemah.

“Iya nih, di masjid ini memang rawan, banyak pengalaman yang kehilangan sepatu.” Aku menambahkan.

“ Memang. Mungkin sudah diincar kali ya tadi. Begitu aku lepas sepatu dan masuk masjid, pencurinya langsung ambil sepatu itu.” Dia mengira-ira. Memang sih biasanya sepatu yang hilang di situ, karena diletakkan di sisi kanan masjid. Sedangkan di sisi tengah masjid, terhitung aman. Mungkin waktu itu memang tidak banyak yang mengira, karena hujan turun terus-terusan, apalagi banyak orang yang menumpang berteduh di emperan masjid itu. Semua mengira, pencuri tidak akan berani beraksi di saat kondisi seperti itu.

Hey, ini sepatuku

“Memang sungguh nasib, hal seperti ini tidak akan bisa dikira dan dihindari. “ batinku.

“ Iya mas, saya sendiri pun pernah kehilangan sepatu juga”. Aku pun ikut berkeluh kesah.

“ Ooo, pernah juga ya kehilangan sepatu di sini.” Dia ikut memastikan.

“ Iya, dua kali malahan.” Aku makin menyesalkan. L L

“ Saya sendiri total tiga kali mas kehilangan sepatu di masjid ini. Hari ini yang ketiga. “ suaranya makin merendah.

Ternyata dia melebihi rekorku kehilangan sepatu di sini. Dia tiga kali dan aku dua kali. Dalam hati masing-masing, semoga Gusti Alloh yang mengganti dengan pengganti yang lebih baik. Asalkan kita semua bisa sabar dan ikhlas atas semua ketentuan Yang Maha Kuasa.

Sungguh aku menyesal. Sudah dibantu untuk tiket pulang kampungku. Eh malah orang yang membantuku mendapat kemalangan hilang sepatu. Mohon maaf ya, semoga ikhlas.

Setelah ngobrol panjang lebar di saat hujan. Mulai obrolan tentang kerjaan, kuliah hingga rumah tinggal di suasana kota Jakarta. Yang jelas, perkenalan makin banyak, dan silaturohmi makin terjalin kuat. Amiiin. Dia pun pulang di saat hujan mereda. Dan aku pun masih menunggu untuk menjalankan sholat Isya.

(as)