Tags

, , , ,

Gempa membawa Ibuku kembali

“ Anak-anak sekolah ramai bermain di halaman sekolah. Tetapi terlihat salah seorang anak SD itu tertegun diam dengan tatapan kosong. Seakan adik kecil itu memikirkan sesuatu yang sulit.

Adik itu bernama Zikri. Zikri hidup bersama nenek dan seorang adik kecilnya perempuan berumur 4 tahun. Kekosongan itu makin menjadi setelah musibah gempa merobohkan rumahnya yang dihuni selama ini. “

Hari itu, hari pertama kali masuk sekolah, sejak gempa bumi melanda Kasongan, Jogja. Murid-murid sekolah dasar Kasongan menempati tenda-tenda darurat  untuk belajarnya. Sekolah mereka sebagian besar retak-retak dan tidak disarankan untuk di tempati. Sekolah yang memiliki 7 ruang kelas, dan 2 ruang guru serta 1 gudang itu retak-retak. Mulai dari sambungan antar dinding hingga tembok-tembok setebal 20 cm itu.

Namanya Zikri … Zikri Amrullah

Sehari-hari masuk sekolah, tatapannya begitu kosong. Candaan dan gurauan dari gurunya pun tidak mampu membuatnya tersenyum luas. Zikri selalu enggan untuk bermain dengan teman-temannya.

Hari itu hari yang lain dari biasanya.  Sekelompok mahasiswa datang, menyelenggarakan kuliah tematik gempa di daerah Kasongan, tempat produksi dan wisata pembuatan kerajinan gerabah di Jogja. Termasuk aku di dalamnya. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah ikut dalam program pendidikan di sekolah dasar Kasongan. Pada awalnya setiap orang yang bertemu dengan orang asing akan merasa aneh dan asing pula. Tetapi ini berbeda, pembawaan dan metode pengajaran serta komunikasi yang dilakukan teman-teman mahasiswa ini cukup powerful.

Masing-masing adik sekolah itu mengenalkan diri. Awal permulaan dalam keterlibatan teman-teman mahasiswa itu adalah dengan mencoba mengenal satu persatu anak didik yang ada di sekolah dasar itu.

Ada beberapa anak didik yang semangat mengenalkan diri dan ada beberapa yang ragu ataupun malu. Zikri kecil  termasuk anak yang pemalu. Entah ini terjadi sejak musibah gempa itu atau ada hal lain.

“ Adik kecil yang duduknya paling belakang. Kamu namanya siapa ?” tanya Wina, salah satu mahasiswa putri yang ambil bagian dalam kuliah tematik gempa ini.

Si Zikri kecil diam saja. Zikri memalingkan mukanya ke arah bawah. Dia menunduk.

“ Kamu malu ya ? kok gak mau mengenalkan diri. Temen-temen yang lain sudah mengenalkan diri lho.” Tambah wina, mengejar Zikri kecil agar memperkenalkan diri.

“ Namanya Zikri bu …” Sahut Rizki dengan semangatnya. Rizki memang anak yang paling aktif.

“ Ooo Zikri ya .. Nama yang bagus … Eeee ayo mukanya ditegakkan dan menghadap ke depan. Ke arah ibu gurumu yang baru ini ya. “ imbuh wina untuk menarik perhatian si Zikri kecil.

Nama Zikri memang nama yang bagus. Zikri berasal dari bahasa Arab, Dzikr, artinya mengingat. Nama memang biasanya berupa doa, doa dari orang tua yang telah melahirkannya.

“ Namamu bagus lho, berasal dari bahasa arab yang artinya mengingat dan dalam sehari-hari kita zikr sangat penting dalam sholat kita. Kamu juga sholat dan sering ikut mengaji TPA khan ? pasti tahu bahasa dan tulisan Arab” tambah mbak Wina sambil tersenyum manis.

Zikri pun menegakkan kepalanya. Si Zikri kecil belum pernah mendengarkan ataupun mengetahui makna atas nama yang ia punya. Orang tua ataupun simbahnya yang selama ini yang merawatnya juga belum pernah memberikan arti dan makna nama zikri kepadanya.

“ hmmm … nama saya ada artinya ya bu?  Aku belum tahu selama ini. Artinya mengingat ya bu, seperti dzikr kalau sholat ya ??” suara yang pertama kali dikeluarkan oleh Zikri setelah dari tadi dikejar-kejar untuk mengenalkan diri. Tetapi dia masih sedikit malu-malu dan bersuara agak rendah.

“ Iya dik Zikri …. Kalau boleh mbak Wina tahu, nama lengkapnya siapa ya ? “ mbak  Wina dalam hati cukup senang.  Sungguh senang bisa mencairkan kebekuan Zikri kecil.

“ Nama saya Zikri Amrullah bu … Satu-satunya anak yang bernama zikri di sekolah ini dan di desa ini. Aku biasa dipanggil dengan Zikri. ” Zikri semakin berani menyampaikan suasana hatinya. Dan wajahnya yang beku pun makin lama makin cerah penuh semangat.

Hari ke hari suasana sekolah dasar itu berubah. Pada awalnya masih dihinggapi dengan rasa takut dan rasa trauma yang mendalam. Suasana itu mulai berubah dengan pelan-pelan. Kegembiraan semakin terasa. Sekelompok mahasiswa yang melakukan kuliah tematik gempa ini pelan-pelan memberikan pengaruh yang bermanfaat. Meski sebenarnya anak sekolah dan orang tuanya sendiri yang punya kekuatan bergerak ke arah yang lebih baik.

Ibunya meninggalkan dia

Perubahan yang terjadi pada sosok si Zikri kecil telah membuat simbah-nya menjadi terheran-heran. Selama ini Zikri kecil tinggal bersama simbah-nya dan adik kecilnya yang berumur empat tahun. Adik kecilnya Zikri bernama Putri. Simbah-nya yang selama ini selalu merawat Zikri dan adiknya, seorang nenek yang sangat sayang dengan cucu-cucunya itu.

Setiap hari jam sekolah, simbah-nya Zikri selalu mengantar Zikri, dan adiknya Putri. Sebenarnya neneknya hanya mengantar Putri kecil untuk masuk sekolah Taman Kanak-Kanak ( TK ). Sedangkan Zikri kecil sudah bisa berjalan sendiri bersama tema-temannya untuk berangkat sekolah.

Keheranan simbah kian hari makin menjadi  dan rasa penasaran pun coba dicari apa yang membuat cucu kecilnya makin ceria dan bersemangat dalam beberapa hari terakhir. Sembari mengantar cucu kecilnya, nenek mencoba mengamati apa yang terjadi di sekolah si Zikri.

Yang diketahui oleh simbah hanyalah dari cerita si Zikri. Suatu waktu saat ngobrol tentang aktivitas sekolahnya.

“ Mbah, di sekolah aku punya Ibu guru yang baru, namanya mbak Wina …” cerita si Zikri.

“ O ya … mbak Wina dari mana ? “ tanya simbah.

“ Kata mbak Wina dia dari Jogja. Mbah , mbah, mbah Putri … mbak Wina ini orangnya baik buaaaaanget lho … aku seneng banget diajarin sama mbak Wina. Mbak Wina bisa ngajarin apa aja.. Mbak wina juga ngasih buku dan pensil sama Zikri dan teman-teman yang lain. “ tambah Zikri sambil tersenyum semangatnya.

“ Baik banget ya … “ rasa penasaran pun menginggapi simbah. Kok bisa mbak Wina yang diceritakan oleh Zikri kecil bisa memberikan perubahan berarti bagi Zikri. Maka Simbah berencana untuk sekalian mengenal dengan mbak Wina dan berterima kasih atas bantuan dalam mengembalikan keceriaan Zikri kecil. Simbah mau bertemu dengan Wina sembari mengantar Putri kecil.

Keesokan harinya simbah ke sekolah mengantar adiknya Zikri. Setelah Putri masuk kelasnya, simbah berdiri di luar halaman sekolah sambil mengamati kegiatan belajar anak-anak bersama mahasiswa yang mengajar. Setelah bertanya pada ibu-ibu lain yang mengantarkan anaknya juga, akhirnya simbah mengetahui mana yang namanya mbak Wina.

Simbah dikasih tahu sama ibu yang lain, bahwa mbak Wina yang berkerudung/ berjilbab.

“ Itu lho mbah yang pakai jilbab itu lho. Mbak Wina itu yang berjilbab warna coklat. “ ibu-ibu itu menginfokan.

“ Oh itu ya … “ simbah pun melihat mbak Wina. Setelah itu simbah mencoba mendekat lebih lagi agar lebih jelas melihat wajahnya mbak Wina.

Taman kanak-kanak selesai lebih cepat ketimbang sekolah dasar. Putri diajak simbah menunggu juga sekolah dasar selesai. Begitu sekolah kelas 3 selesai belajar sekitar jam 11.30, si Zikri kecil diajak simbah untuk bertemu dengan mbak Wina. Kebetulan sejak gempa, dan sejak anak sekolah belajar di bawah tenda darurat, waktu belajarnya pun dipercepat.

Simbah mengajak kedua cucunya menemui mbak Wina. Simbah pun bertemu dengan mbak Wina untuk pertama kalinya. Simbah memperkenalkan dirinya kalau dia adalah simbahnya dari Zikri dan Putri.  Sekalian juga simbah memperkenalkan cucunya yang paling kecil si Putri.

“ Terima kasih mbak Wina… Sejak mbak Wina mengajar cucu saya, dia jadi seneng banget.” Lanjut simbah.

“ Oh sama-sama mbah. Iya pada awalnya dia agak pendiam, tetapi sekarang, sepertinya sudah mulai ceria kembali. “ timpal mbak Wina.

“ Iya mbak Wina. Sekarang Zikri lebih ceria sekali. Sebelumnya dia selalu diam di rumah darurat kami. Setiap diajak ngomong lebih banyak diamnya daripada jawabnya. “ tambah simbah.

“ Memang sebelumnya juga sediam itu mbah ?” tanya mbak Wina.

“ Enggak mbak Wina. Zikri dan Putri sudah lama tinggal bareng simbah sejak si Putri umur 2,5 tahun. Waktu itu ibunya pergi meninggalkan suami dan anak-anaknya bersama pria lain. Sekarang kita tidak tahu dia dimana.” Cerita simbah. Sejak kejadian itulah Zikri sempat down. Tidak ada kasih sayang ibu yang dia dapatkan selama ini. Sepertinya Zikri sangat kangen dengan ibunya.

“Oh, lha bapaknya Zikri dan Putri kemana mbah ?” tanya mbak Wina.

“ Bapaknya Zikri dan Putri pergi juga untuk kerja cari uang buat anak-anak. Semenjak gempa mengguncang, rumah simbah yang biasa ditempati simbah, Zikri dan Putri beserta bapaknya, ikutan roboh. Alhamdulillah tidak ada korban waktu itu. Karena tidak bisa ditempati, maka kelurahan Kasongan memberikan bantuan rumah. Rumahnya pun juga sederhana, berukuran 4×5 m dengan dinding terbuat dari papan triplek. Atapnya sendiri menggunakan seng. Tapi syukur kita semua masih bisa menempati dan cukup untuk tidur kita semua. “ jelas simbah.

Rumah Papan Triplek

Mbak Wina lalu menanyakan kok rumah yang lama tidak dibangun lagi. Lalu dijelaskan oleh simbah bahwa untuk membangun rumah yang lama masih menunggu bantuan dari pemerintah untuk bahan bangunannya. Setiap KK mendapatkan bantuan bahan bangunan secukupnya untuk membangun kembali rumah. Sedangkan waktunya sendiri juga harus menunggu giliran.

Proses pembangunan rumah menunggu antrian. Untuk membangun rumah warga yang roboh, maka dibentuklah kelompok-kelompok kerja yang akan membangun rumah. Kelompok kerja ini pun beranggotakan warga sendiri yang akan membangun rumahnya kembali. Setiap pemilik yang rumahnya akan dibangun kembali haruslah menyediakan makanan untuk kelompok kerja yang akan membangun rumah. Selain itu, pemilik rumah juga perlu melengkapi kekurangan bahan bangunan jika ingin membangun rumah sesuai keinginan.

“ Untuk itulah mbak Wina, simbah dan bapaknya Zikri dan Putri belum punya cukup uang untuk menyediakan makanan bagi kelompok kerja nanti. Makanya saya minta agar rumah kita dibangun belakangan saja setelah punya cukup uang untuk membiayai pembangunan. Makanya bapaknya anak-anak bekerja keluar daerah untuk mencari uang kebutuhan pembangunan rumah nanti. Kebetulan di daerah lain yang sedang membangun rumah memerlukan bantuan tenaga kerja. Selain itu banyak lembaga asing yang mempunyai proyek pembangunan rumah gempa dan perlu tukang bangunan. Katanya sih bapaknya Zikri dan Putri bakal pergi sebulanan lebih. “ penjelasan simbah sungguh mengharukan. Mbak Wina sendiri mencoba menahan air matanya mengalir karena larut dalam cerita sedih yang menimpa keluarga Zikri.

“ Saya turut mendoakan mbah supaya Zikri dan Putri bisa menjalani ini dengan ceria dan tanpa beban. “ harap mbak Wina.

Semangat dan keceriaan baru : Serasa ibunya kembali

Zikri dan adiknya memang syok berat dan trauma yang luar biasa karena kejadian gempa itu. Di pagi hari yang biasanya anak sekolah berangkat ke sekolahan, tapi pagi itu bergejolak, semua orang teriak karena seakan bumi di goyang dengan kencangnya.

Tetapi sejak kehadiran mahasiswa dan terutama mbak Wina di sekolahan Zikri, suasana membaik. Zikri sudah berangsur pulih meski tidak sebagus kondisi sebelumnya. Secara fisik, tidak ada luka apapun yang mengenai Zikri, tetapi secara mental, terhitung Zikri sangat down.

Memang untuk kondisi seperti ini perlu strategi pemulihan mental untuk menghilangkan trauma. Dan memang dalam kelompok mahasiswa itu juga diikuti oleh mahasiswa psikologis sehingga cukup membantu kondisi ini.

“ Sekali lagi terima kasih mbak Wina, mbak Wina mengembalikan kebahagiaan Zikri. Dan satu hal yang sangat aku senang adalah Zikri pernah berkata : Mbah Putri, Zikri telah ketemu ibu baru yaitu mbak Wina. Zikri ingin mbak Wina jadi ibuku “ kata simbah sambil tersenyum.

Mendengar itu, mbak Wina makin terharu, setetes air matanya jatuh di pipi. Bibirnya tersenyum sebegitupula hatinya ikut senang. Dia pun tak lupa berharap dengan sungguh-sunguh suatu saat Zikri kecil ketemu ibunya yang sebenarnya. Amiiin.

(as)

Tunggu cerita kelanjutannya🙂