Tags

, , , ,

1 Syawal 1432 H merupakan hari besar bagiku, bagi keluarga dan bagi umat muslim sedunia … Allohu Akbar .. Allohu Akbar .. Allohu Akbar Walillahilhamd

Perjalanan hari-hari di Bulan Ramadhan dan Syawal ini telah memberikan cahaya terang bagiku. Pada malam lebaran itu aku menyempatkan membaca e-book sebuah novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya Buya Hamka. Cerita yang dikisahkan dalam novel itu sangat menarik bagiku. Ada beberapa potongan pembicaraan yang bagus, yaitu sebuah pernyataan tentang cahaya. Potongan pembicaraan ini coba saya hubungkan dengan perumpamaan pelita besar dalam ayat suci Al-Quran.

Berikut ini potongannya ….

Cahaya di Atas Cahaya

——%–%%%–%—–

Tuan!….telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gelita. Tidak
tentu arah yang saya tempuh, tidak kelihatan suatu bintang di halaman
langit akan saya jadikan pedoman dalam menuju perjalanan itu demi
setelah sampai berita yang demikian. Seakan-akan kegelapan itu terang
sedikit ke sedikit, sebab dari Timur melintang cahaya fajar, cahaya
yang saya nanti-nanti, cahaya itu lebih benderang dari cahaya suria

(surya), lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin dari cahaya
kelap-kelip bintang-bintang. —
—   (di Bawah Lindungan Ka’bah – Buya Hamka )  —

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya
Allah adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya
ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan
minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang
tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang
minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak di sentuh api,
cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang
dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia

dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” — (QS An-Nur 35) —