Tags

, ,

Pada jumat pekan lalu, saya berkesempatan mengikuti talkshow salah satu selebritis yang sedang naik daun saat ini. Dia bukanlah selebritis film, selebritis sinetron maupun selebritis infotainment, tetapi selebritis politik dan birokrat yang sedang meroket reputasinya pada dua tahun terakhir ini. Ya, beliaulah Dahlan Iskan.

Talkshow yang menghadirkan tokoh sentral Dahlan Iskan dan dimoderatori Rhenald Kasali. Kehadiran Cak Dahlan Iskan di acara ini tak pelak lagi mengundang banyak perhatian para hadirin. Begitu banyaknya peserta yang hadir untuk menyaksikan dan mendengarkan talkshow bersama beliau. Terhitung lebih dari 300 orang memenuhi ruangan talkshow. Begitu beliau masuk ke ruangan, seluruh hadirin bertepuk tangan dengan meriahnya. Tampak sekali kebiasaan dress code pak Dahlan yang sering mengenakan kemeja putih, celana hitam dan tentu saja sepatu larinya yang mahal itu. Begitu pak Dahlan sudah siap, pak Rhenald Kasali pun mempersilakan beliau untuk memulai presentasinya.

Saat microphone diserahkan kepada pak Dahlan, beliau malah balik bertanya “ Acara ini judulnya apa ya ??”. Pak Rhenald malah jadi kaget dan bengong, dan para hadirin justru tertawa terbahak-bahak. Dikiranya beliau sudah siap dengan bahan yang akan dipresentasikan. Penonton pun ada yang teriak “Belum Ada Judul”, mirip judul lagunya Iwan Fals. Akhirnya daripada buntu dan makin bertanya-tanya, Pak Dahlan menawarkan tema kepada para hadirin. “Oke, teman-teman sekalian yang menentukan apa tema dan judulnya, nanti saya akan berusaha bercerita sesuai usulan dan masukan para hadirin. Ayo silakan sebutkan judul dan tema yang diinginkan?” teriak beliau.

Mendapat tawaran tersebut para penonton yang datang pun bersemangat mengacungkan jari dan menyebutkan usulan tema yang diminta. Akhirnya bersahut-sahutanlah masing-masing hadirin yang datang mengusulkan mulai tentang keberanian, breakthrough, turnaround, perjuangan, entrepreneurship, 2014, out of the box dan lainnya. Hampir semua yang disebutkan adalah penilaian para hadirin terhadap sosok fenomenal Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN saat ini.

Mendengar usulan yang bersahut-sahutan tersebut, Pak Dahlan menampung semua masukan dalam ingatannya dan memulai ceritanya bagaimana menjadi Menteri BUMN, dari sebelumnya Dirut PLN dan Juragan Jawa Pos. Seperti bagaimana kita ketahui bahwa beliau dari seorang Juragan Jawa Pos yang sudah tidak bekerja lagi diminta oleh pak SBY memimpin PLN yang bermasalah. Selama 2 tahun kepemimpinan, gebrakannya sangat berkesan bagi masyarakat dan akhirnya diangkat menjadi Menteri BUMN. Ceritanya cukup singkat hanya 10 menit dan beliau langsung menawarkan hadirin untuk mengajukan pertanyaan agar acara ini lebih komunikatif dua arah dengan tanya jawab.

Hadirin pun mulai mengajukan pertanyaan dan dari beberapa yang menarik salah satunya adalah pertanyaan seorang karyawan Indosat selaku perusahaan BUMN milik pemerintah. Ibu ini menanyakan apakah pemerintah ada niatan menasionalisasi Indosat dengan membeli kembali kepemilikan Indosat dari pemilik asing. Tersirat sekali si ibu ini sangat berharap pemerintah menguasai kepemilikan Indosat sepenuhnya sebagai bukti nasionalisme perusahaan. Sebagaimana diketahui saat ini kepemilikan pemerintah atas Indosat hanya 14,9% dibandingkan 65% kepemilikan Qatar Telecom dan sisanya dimiliki oleh publik 20,1%.

Pak Dahlan langsung menjawab pertanyaan ibu itu. Beliau menerangkan bahwa saat ini perusahaan pemerintah sektor telekomunikasi berbagi kepemilikan dengan perusahaan luar negeri asal Qatar dan Singapura. (artinya beliau menyebut Indosat dan Telkomsel). Untuk melakukan pembelian kembali kepemilikan perusahaan syaratnya ada dua, yang pertama adalah pemilik saham berniat menjual saham kepemilikan dan yang kedua adalah apabila perusahaan asing tersebut berniat menjual dengan harga jual yang wajar yang bisa dibeli oleh pemerintah. Asalkan kedua syarat itu terpenuhi, maka sangat memungkinkan kalau pemerintah membeli kembali kepemilikan perusahaan telekomunikasi tersebut. Itu merupakan langkah pemerintah dalam upaya merevitalisasi sektor usaha strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Seandainya pun kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka pemerintah bisa mengambil langkah lain yang terhitung ekstrem yaitu dengan memaksa perusahaan asing tersebut menjual kepemilikannya sesuai dengan harga yang ditentukan pemerintah. Dalam hal ini memang pemerintah punya otorisasi untuk membuat kebijakan terhadap usaha nasional yang melibatkan investor asing. Sebagaimana kita tahu bahwa negara pada dasarnya adalah pengusaha tunggal atas faktor-faktor produksi dari kekayaan alam di negara tersebut. Tapi cara ini tidaklah etis, dan malahan bisa dikatakan dengan merampok. Merampok uang para investor.

Itulah jawaban pak Dahlan terkait dengan kepemilikan asing perusahaan telekomunikasi tersebut. Point terakhir tentang upaya revitalisasi usaha strategis domestik dengan cara pemaksaan ini mirip sekali dengan langkah-langkah yang dilakukan Presiden Venezuela Hugo Chavez yang melakukan nasionalisasi perusahaan nasional seperti perminyakan, tambang emas, supermarket. Presiden Hugo Chavez mengusir kepemilikan asing yang beroperasi di sektor usaha strategis Venezuela. Meskipun dari pengadilan arbitrasi memutuskan bahwa negara harus membayar ganti rugi kepada pemilik asing atas kebijakan tersebut.

Memang gebrakan pak Menteri BUMN ini layak ditunggu khalayak ramai. Dan masyarakat pun berharap dengan perbaikan kinerja BUMN akan berperan memajukan ekonomi masyarakat sekitar. Dan tak salah jika reputasi pak Dahlan Iskan meroket tajam sejak menahkodai PLN selama 2 tahun dan saat ini di Kementrian BUMN. Upaya revitalisasi BUMN-BUMN yang dilakukan sekarang sangat efektif bagi bisnis BUMN.

Lalu bagaimana aksi beliau bagi perusahaan kita Telkomsel ? Layak kita nantikan juga.